Perikanan dan Minyak Atsiri

Bukan rahasia lagi jika Indonesia adalah negara kepulauan terbesar di Dunia, memiliki potensi industri perikanan yang luar biasa besar. Industri perikanan baik Ikan segar, filet, beku, hias semuanya belum tergarap secara maksimal. Hampir sebagian pelaku usaha ini mengeluhkan sulitnya perizinan dan kawan – kawannya. Namun 3 tahun terakhir, Menteri KKP, Susi Pujiastuti mencoba untuk meminimalisir kesulitan – kesulitan yang dialami oleh para pengusaha tersebut. Beliau coba mendorong pengusahaan industri perikanan di Indonesia menjadi lebih mudah dan transparan.  Berikut 2 petikan pernyataan beliau kepada wartawan tentang pentingnya peningkatan nilai ekspor perikanan Indonesia. Harapannya kedepan lebih Indonesia lebih banyak mengekspor ikan segar daripada ikan beku karena harganya lebih mahal.

Susi mengatakan, ekspor ikan beku seharusnya tidak lagi diperbolehkan. Yang seharusnya diizinkan untuk diekspor, menurut Susi, adalah ikan segar. “Harusnya nanti nggak boleh ekspor ikan glondongan. Kecuali fresh, yang hidup. Kalo hidup kan harganya tinggi,” katanya. (Tempo, 23 Februari 2017)

 

Susi mengaku, setelah melihat dan mempelajari industri ikan hias, menurutnya Indonesia bisa lebih unggul dari Singapura. Ini terlihat pada tren nilai ekspor ikan hias dunia pada 10 tahun terakhir yaitu sejak 2007 hingga 2016.  “Singapura mengalami tren negatif 4,47 persen per tahun. Sementara itu, Indonesia mengalami tren positif sebesar 15,17 persen per tahunnya,” kata Susi. (CNN, 5 Desember 2017)

Menurut data BPS, nilai ekspor ikan hias Indonesia tahun 2017 adalah senilai $27.61 juta. Sedangkan per Juli 2017 ekspor kerapu nasional tercatat sebesar USD16,42 juta, ini baru dari jenis Kerapu dan baru dari satu wilayah saja. Luar biasa potensi yang seharusnya bisa tergarap.

“Lho, kenapa blog ini jadi bahas ikan? harusnya kan minyak atsiri dan kawan – kawan nya?”

“Tenang kawan, kita tetap membahas minyak atsiri, namun kali ini kita membahas minyak atsiri yang berkaitan dengan perikanan.”

“Memangnya berkaitan?”

“Mari kita bahas bersama saja”

“Oke!”

Bila kita mencermati pernyataan menteri Susi, bahwa sebaiknya kita mengekspor ikan segar hidup baik itu untuk makanan maupun untuk ikan hias, maka pastinya kita akan bertanya, bagaimana caranya mengirimkan ikan segar yang masih hidup ke Negara tujuan pengimport ikan segar tersebut.

Tentunya, pengangkutannya membutuhkan teknik khusus serta kecepatan pengangkutan, makanya Bu Susi selalu bilang, bahwa Industri perikanan kita ini harus didukung oleh sektor transportasi dan minyak atsiri (yang minyak atsiri nggak bilang ding :D). Karena dengan adanya transportasi yang memadai maka pengiriman akan lebih cepat sampai dan ikan masih dapat bertahan hidup sampai lokasi. Dan mengapa menggunakan minyak atsiri?

Ikan adalah suatu hewan komoditi yang cukup rentan akan stres, terutama bila diangkut kelokasi – lokasi yang jauh dan banyak guncangan. Adanya stres pada ikan, akan menyebabkan organ dalam ikan lebih mudah rusak. Jika sudah terjadi hal tersebut, maka ikan akan cepat mati atau nilai dagingnya akan berkurang drastis, sama seperti manusia jika banyak stres bisa cepat mati :D. Untuk itu diperlukan suatu teknik khusus selain transportasi agar ikan tetap tenang selama perjalanan. Jika ikan tenang dalam perjalanan maka, kualitas daging ikan pun tetap fresh dan prima sampai ke lokasi Negara importir.

Selama ini diketahui telah digunakan suatu produk dengan bahan aktif Tricaine mesylate atau Tricaine methanesulfonat, nama dagangnya adalah TMS-MS 222 keluaran dari Syndel USA. Produk ini berfungsi sebagai zat sedative/anastesi yang diperuntukan pada industri perikanan, atau hewan – hewan berdarah dingin. MS222 ini sebenarnya bekerja melemahkan otot – otot gerak dengan cara memblok signal – signal yang terdapat pada system syaraf ikan, sehingga ikan menjadi tidak dapat merasakan rangsangan dari luar. Sangat mudah digunakan karena larut dalam air, namun kekurangannya adalah dapat meingkatkan pH seketika sehingga air akan menjadi bersifat asam. Diperlukan tambahan natrium bicarbonat sebagai buffer agar pH tetap seimbang.

Kelemahan dari MS222 yang dirasakan oleh para pengusaha atau importir adalah harus menunggu 21 hari terlebih dahulu agar kandungan MS222 dalam tubuh ikan terdegradasi baru layak di konsumsi, tidak bermasalah jika digunakan pada ikan hias. Namun bagi para pengusaha ikan konsumsi, adanya tambahan waktu ini merupakan suatu biaya yang harus diperhitungkan.

Selain MS222, dipasaran juga dikenal suatu produk dengan nama Aqui-S 20. Produk ini mengandung 10% Eugenol. Ya betul, Eugenol disini adalah suatu senyawa yang terkandung dalam minyak atsiri cengkeh, sirih, minyak lawang dan beberapa minyak lainnya. Keunggulannya dibandingkan dengan MS222 adalah Aqui-S 20 ini tidak memerlukan waktu 21 hari agar dapat dikonsumsi. Karena waktu releasenya lebih cepat dan termasuk komponen ex natural sehingga aman dikonsumsi.

Sebenarnya, tidak hanya Eugenol saja. Isoeugenol, Methyl eugenol atau minyak daun cengkeh/minyak gagang cengkeh nya langsung juga dapat digunakan dalam anastesi ikan ini. Bahkan beberapa jurnal penelitian menuliskan efek anastesi yang paling baik terdapat pada senyawa Isoeugenol. Walaupun Minyak cengkeh dan turunannya bersifat korosif, namun dikenal sebagai zat atau bahan yang aman untuk digunakan berdasarkan aturan yang direlease oleh United States for direct inclusion in food (USOFR 2002b).

Bagaimana cara kerjanya?

Sebenarnya sama dengan cara kerja MS222. Eugenol dkk menghambat signal pada system syaraf ikan, sehingga simpul-simpul syaraf ikan menjadi tidak saling terkoneksi, namun fungsi pernafasan masih tetap berjalan namun dalam keadaan minimal, hanya untuk bertahan hidup saja. Dosis pemberian eugenol dkk ini disesuaikan dengan berat dan jenis ikan yang akan diberikan perlakuan. Jika terlalu banyak dosisnya, ikan dapat mengalami kematian, namun jika terlalu sedikit juga dikhawatirkan ikan akan siuman dalam perjalanan. Waktu pemberian anestesi berkisar antara 5 sampai 10 menit saja.

Efek sedative Eugenol pada ikan pertama kali dipublikasikan awal tahun 1970 oleh Endo dan kawan-kawannya pada Bulletin of the Japanese Society of Scientific Fisheries 38:761–767. Sedangkan laporan efek sedative menggunakan minyak cengkeh (daun/gagang) lebih banyak ketimbang Eugenol ataupun Isoeugenol. Menurut Ross 2008 pada bukunya Anaesthetic and sedative techniques for aquatic animals,  paling tidak ada sekitar 40 jenis jurnal yang mencantumkan efektivitas minyak cengkeh sebagai anastesi. Minyak cengkeh dan turunannya ini dapat digunakan pada perikanan air tawar maupun air asin. Dilaporkan efek anastesinya dapat bertahan hingga 72 Jam atau tergantung pada berat badan ikan.

Pasar ikan segar

Kembali lagi pada industri perikanan Indonesia, tentunya dan seharusnya menjadi hal yang sangat mudah untuk mengembangkan, karena Indonesia penghasil Ikan terbesar dan juga penghasil minyak cengkeh dan turunannya, terbesar juga. Selain itu jika produksi ikan segar hidup ditingkatkan maka kebutuhan akan minyak daun/gagang cengkeh dan turunannya akan semakin meningkat. Bravo tukang suling CLO/CSO! hahaha

Dengan poin tersebut saya rasa, kejayaan industri maritim dan industri turunan pohon cengkeh kita sudah didepan mata. Dan memang sudah sejak dahulu, cengkeh nusantara dan laut nusantara, mengenyangkan insan yang mendiami atas buminya.

 

 

 

Author: Ano

peneliti dan praktisi di bidang minyak atsiri dan kimia bahan alam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *