Java Cananga Oil, salah satu minyak atsiri dalam list diambang kepunahan

 

Akhir tahun 1800 hingga Tahun 1939 seluruh minyak Kenanga yang dikonsumsi oleh dunia di hasilkan dari Banten. Namun pada tahun 1939 beberapa pengusaha Tionghoa mendirikan penyulingan yang sama di Cirebon dengan skala yang lebih besar. sehingga setelah tahun tersebut Produksi dunia dihasilkan dari ke 2 daerah tersebut.

Perbedaan produksi Banten dan Cirebon terletak pada kualitasnya. Kualitas minyak yang dihasilkan oleh Cirebon lebih baik daripada yang dimiliki oleh Banten. Hal tersebut karena penyulingan di Banten diusahakan oleh rumah tangga dengan alat suling yang sangat sederhana. Sedangkan penyulingan di Cirebon rata – rata milik pengusaha Tionghoa yang menggunakan alat suling sedikit modern dengan rata – rata kapasitas ketel 400 – 500 Liter dengan waktu suling 36 Jam hingga 48 Jam.

Penyulingan Kenanga di Banten

Kenanga yang ada di Banten adalah Cananga odorata forma macrophylla dimana daun dan pohonnya jauh lebih besar tinggi dibandingkan dengan Cananga odorata genuina (ylang – ylang). Perbedaan jenis pohon ini diketahui oleh seorang peneliti botani asal Belanda yang menetap di Bogor (saat itu bernama Buitenzorg) bernama Koolhaas. Hasil penelitian Koolhaas menyimpulkan bahwa pohon kenanga Jawa memiliki daun yang lebih lebar dan besar dari pada kenanga yang di import dari Filipina. Tinggi rata – rata kenanga Filipina adalah setengah dari kenanga Jawa.

Pohon kenanga Jawa berumur 7 Tahun yang tumbuh di Banten setiap tahunnya rata – rata menghasilkan bunga sekitar 56.69 Kg hingga 68.03 Kg, sdeangkan diatas itu dapat mencapai 300 Kg/tahun. Dengan rendemen rata – rata adalah 0.7% hingga 1% (data tahun 1952)

Seorang pengusaha minyak kenanga Tionghoa di Cirebon

Produksi dari ke 2 daerah Banten dan Cirebon :

  • 1928 18.905 Kg (Banten)
  • 1929 16.049 Kg (Banten)
  • 1930 10.055 Kg (Banten)
  • 1931 9.267 Kg (Banten)
  • 1932 11.289 Kg (Banten)
  • 1933 11.965 Kg (Banten)
  • 1934 15.687 Kg (Banten)
  • 1935 17.048 Kg (Banten)
  • 1936 18.902 Kg (Banten)
  • 1937 22.788 Kg (Banten)
  • 1938 15.611 Kg (Banten)
  • 1939 14.825 Kg (Banten + Cirebon)
  • 1940 13.289 Kg (Banten + Cirebon)
  • 1940 – 1947 Berhenti Produksi dikarenakan PD II
  • 1947 2.000 Kg (Banten + Cirebon)
  • 1948 3.000 Kg (Banten + Cirebon)
  • 1949 7.300 Kg (Banten + Cirebon)

sedangkan data terakhir yang saya dapat tahun 2015 jumlah produksi kenanga seluruh dunia hanya sekita 8 – 10 Ton saja.

Sebenarnya pada pertengahan tahun 1990an Balittro bersama KPH Banten yang berlokasi di Malimping Lebak, sempat melakukan budidaya tanaman kenanga dengan luasan total 502 Ha, merupakan luasan perkebunan kenanga yang terluas di dunia saat itu. Berjalan dengan lancar hingga terakhir produksi pada tahun 2007. Info yang terakhir saya dapat luasan kebun kenanganya hanya sekitar 8 – 10 Ha saja, sisanya ditebang dan digantikan dengan Tanaman HTI lainnya. sebenernya sangat disayangkan.

* Jenis yang ditanam di Malimping adalah Ylang – ylang, walaupun ditemukan bercampur juga dengan Kenanga jawa macrophylla.

Data Produksi Ylang-ylang KPH Banten Malimping

Kedepannya tantangan generasi muda Banten cukup sulit yaitu meningkatkan kembali produksi Java Cananga, minimal sama seperti waktu pertama kali di kenalkan dan diproduksi oleh sepuh Banten saat itu.

Saat ini, produsen utama kenanga di Indonesia adalah Boyolali, Blitar dan Pasuruan. Produsen di Boyolali pun saat ini sudah tidak produksi, Blitar tinggal 3 orang penyuling, dan Pasuruan kabarnya ada satu penyuling. Ketersediaan bahan baku yang sudah mulai sulit diusahakan karena sebagian besar pohon kenanga sudah terlalu tinggi sehingga jarang orang yang berani panen bunga di ketinggian lebih dari 20 meter. Kedua, tingginya harga bahan baku bersaing dengan para penjual bunga untuk makam, terutama saat musim – musim tertentu. Selain itu rata – rata penyuling kenanga sudah berusia lanjut, dan tidak ada yang meneruskan usahanya.

Permasalahan tidak itu saja, karena selain penyulingnya yang sudah berusia lanjut,  pohonnya rata – rata juga sudah berusia lanjut. Karena sedikit yang aware terhadap masalah ini dan dianggap sebagai komoditi sampingan oleh masyarakat, maka jarang sekali adanya peremajaan pohon kenanga ini. Selain itu penyakit seperti penggerek batang sudah mulai banyak menyerang terutama di daerah Blitar yang sempat dikunjungi oleh penulis.

Jika saja ada diantara Anda sekalian yang akan membudidayakan pohon kenanga, saya usulkan untuk anda menggunakan teknik pruning pada tanaman Anda. Dengan teknik ini, tanaman Anda buat lebih pendek sekitar 2 meter saja. Tujuannya adalah untuk mempermudah dalam proses pemanenan. Pemangkasan pohon pada bagian atas ranting pohon perlu dilakukan hingga pohon berumur 3 tahun. Dengan demikian pohon tumbuh tak hanya ke atas tapi juga ke samping sehingga lebih rindang dan bisa menghasilkan bunga lebih banyak.

Pohon kenanga yang di pruning berusia 10 tahun. Daun baru trubus setelah dimakan ulat, fase setelah ini adalah tumbuh bunga baru

Hampir semua penyuling kenanga menggunakan distilasi metode rebus. Bahan baku bunga direbus selama 18 Jam. Rendemen rata – rata 1% dari berat bunga. Namun jika kita cermati, ada sedikit ketidak tepatan dalam memilih metode distilasinya. Kandungan utama dari kenanga adalah komponen ester, dimana bila bunga kenanga direbus maka komponen ester-nya akan terlarut pada air panas, sehingga mengurangi komponen yang terdapat pada minyak atsiri bunga kenanga. Tentunya aromanya tidak sewangi jika kita melakukan distilasi dengan metode kukus. Pada metode kukus, komponen ester yang terhidrolisa cenderung lebih sedikit sehingga kita dapat memanen ester lebih banyak di 2 jam pertama penyulingan.

Kebutuhan minyak atsiri kenanga yang terus meningkat, namun produsen-nya semakin lama, semakin berkurang mengakibatkan supply lebih kecil dari demand. Kondisi ini sebenarnya peluang bagi para pemain baru, yang memiliki modal yang cukup senggang untuk mengembangkan komoditi ini. Tentunya harapan besar ada pada pundak Perhutani yang pernah mengembangkan tanaman ini sebelumnya untuk hadir kembali, tapi tidak menutup kemungkinan dari pihak perkebunan – perkebunan swasta juga turut andil dalam mengembangkan komoditi minyak atsiri kenanga.

Sumber :
– Guenther Vol 5
– Slide DAI
– Buku minyak atsiri Bunga Pak T
– Observasi lapangan (baca jalan – jalan)

jika ada data yang salah silahkan dikoreksi. Salam!

Author: Ano

peneliti dan praktisi di bidang minyak atsiri dan kimia bahan alam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *