Tégur tak pernah mengira hidupnya akan dibawa sejauh itu. Ia hanya anak Walaing yang lebih akrab dengan bau damar, cendana, gudang, dan pelabuhan kecil daripada urusan para penguasa. Tetapi ketika perebutan kuasa mulai meretakkan kampungnya, ia terseret ke jalan yang mempertemukannya dengan pedagang, pelaut, orang-orang buangan, dan rahasia-rahasia yang bergerak diam-diam di jalur dagang Jawa abad kesembilan belas.
Perjalanan itu mengubah cara Tegur memandang rumah, kekuasaan, dan dirinya sendiri. Dengan pembawaan yang jenaka, lugu, dan keras kepala, ia menempuh dunia yang lebih luas daripada yang pernah dibayangkannya-dunia yang berbau garam, kayu, rempah, keringat, dan kehilangan.
Tégur Putra Walaing: Jalur Angin adalah kisah tentang perjalanan, perdagangan, ingatan, dan seorang pemuda yang pulang dengan mata yang tak lagi sama.
