Java Vetiver Oil, Minyak Akar Wangi Jawa

Akar wangi Vetiveria zizanoides, merupakan salah satu keluarga rumput – rumputan (Graminae) yang akarnya mengandung minyak atsiri. nama – nama daerah lainnya antara lain Kush, Lorosetu, Narwastu, Sambektuan, dan khas -khas. Terdapat setidaknya 10 species dalam genus Vetiveria ini, antara lain :

 Vetiver, Pada lahan tanah sawah belakang rumah
  • V. arguta,
  • V. elongata,
  • V. filipes,
  • V. fulvibarbis,
  • V.intermedia,
  • V. lawsonii,
  • V. nigritana,
  • V. pauciflora,
  • V. rigida,
  • V. zizanoides

 

Namun yang paling banyak diusahakan hanya Vetiveria zizanoides dan sedikit Vetiveria nigritana di daerah Afrika. Vetiveria zizanoides juga memiliki 2 jenis genotype, para ahli membaginya menjadi akar wangi India Utara dan akar wangi India Selatan. Dari kedua genotype tadi, akar wangi India Selatan lah yang lebih optimal jika diusahakan sebagai bahan baku minyak atsiri. Perbedaan genotype diantara keduanya adalah bahwa India Utara memiliki genotype diploid dan India Selatan memiliki genotype polyploid.

Tumbuhan secara umum bereaksi positif terhadap polyploidi. Tetraploid (misalnya kentang) dan heksaploid (misalnya gandum) dapat memberikan sifat berukuran lebih besar (reaksi “gigas”, atau “raksasa”) daripada leluhurnya yang diploid. Karena hasil panen menjadi lebih tinggi, poliploidi dimanfaatkan dalam pemuliaan tanaman. Pada kasus akar wangi, Akar India Selatan cendrung lebih besar dan memiliki kandungan minyak lebih banyak dari pada akar wangi India utara. Selain itu akar wangi India selatan memiliki akar yang lebih tebal dibanding akar wangi India Utara.

Sebelum Tahun 1917, Pulau Jawa lebih banyak mengekspor akar wangi dalam bentuk kering. Namun setelah tahun 1917, dikarenakan terjadi masalah dalam pengapalan ke Eropa akibat terbatasnya volume gudang di Batavia, maka atas inisiatif Dr. A. Hischmann mencoba untuk menyuling akar wangi yang ada di dekat kota Bandung. Akar wangi yang disuling oleh Hischmann adalah akar wangi yang sudah tersimpan selama 2 tahun, menghasilkan minyak dengan berat jenis tinggi, sehingga memiliki kualitas yang baik. Awalnya akar wangi yang masuk ke Indonesia adalah akar wangi jenis India Selatan, tertulis pada catatan Ernest Guenther tahun 1949. Namun tidak diketahui dengan jelas, didapatkan juga akar wangi genotype India Utara di Indonesia,  khususnya di Garut dan lebih spesifik banyak tersebar di daerah Gunung Cikuray, Cilawu.

Seorang petani vetiver memberi pakan ternaknya dengan daun vetiver

Orang Garut menyebut akar wangi India Selatan dengan sebutan Usar dan menyebut akar wangi India Utara dengan sebutan Janur. Perbedaan keduanya jelas nampak dari rendemen minyak yang akan didapatkan, lalu perbedaan ukuran akar dan warna, selain itu akar wangi India Utara akan berbunga ketika usia 5 Bulan. Berbeda dengan India Selatan (yang dibawa ke Indonesia) yang tidak berbunga, hal tersebut dimungkinkan karena perubahan gen tadi yang sering di kembang biakan secara vegetatif.

Pada awal penyebarannya di Hindia Belanda (Indonesia pra merdeka) terdapat 3 penghasil utama akar wangi kering. Ketiga daerah tersebut adalah Garut, Wonosobo dan Banjarnegara. Untuk Wonosobo dan Banjarnegara sebenarnya lokasinya berdekatan, namun karena perbedaan wilayah administratif jadi tetap dipisah secara wilayah. Banjarnegara dan Wonosobo kemudian berhenti mengembangkan penanaman akarwangi pada Tahun 1950an karena terdesak oleh tanaman kentang, sedangkan penanaman di Garut terus ada hingga saat ini.

Saat ini pengembangan akar wangi di Indonesia sepertinya kurang begitu diminati, baik dari segi bisnis maupun dari segi penelitian. Dari varietas unggulan yang dikeluarkan oleh Pemerintah,c.q Balittro baru terdapat 2 varietas unggulan, yakni Verina 1 dan Verina 2. Penelitian dan Pengembangan akar wangi di Indonesia jauh tertinggal dari pada negara – negara lain seperti India, Thailand dan US. Sampai saat ini negara – negara tersebut telah mengeluarkan beberapa varietas akar wangi unggulan, diantara nya Monto, Sunshine, Karnataka, Fiji dan Madupatty. Penggunaan nya pun beragam. Selain untuk diperoleh minyaknya, sebagian besar juga digunakan untuk proses konservasi dan phytoremediasi logam – logam berat.

Akar wangi yang terdapat di Indonesia tumbuh pada ketinggian 800 – 1300 mdpl. Biasanya tumbuh pada lereng – lereng gunung berapi yang memiliki tanah berpasir dan vulkanik muda. Walaupun sebenarnya akar wangi dapat tumbuh dimanapun, namun struktur tanah vulkanik muda dan berpasir akan memberikan kemudahan ketika melakukan pemanenan akar. Menurut literatur, seharusnya akar wangi yang memiliki kualitas baik adalah akar wangi yang dipanen pada umur 24 Bulan, akan tetapi sangat sulit untuk memenuhi kualitas tersebut dikarenakan adanya kompetisi dari jenis tanaman pangan yang lebih cepat panen dan menguntungkan daripada harus menunggu 24 Bulan. Untuk itu maka biasanya rata – rata petani di Garut akan mulai memanen akar wangi pada Bulan ke 10 (minimal). Dampak dari panen muda ini berpengaruh pada kualitas minyak yang didapatkan, meskipun saat ini menjadi lumrah akar wangi dipanen pada Bulan 10 hingga 12.

Akar wangi lebih menyukai lokasi yang tidak memiliki naungan, intensitas matahari panjang, intensitas angin cukup banyak. Jika kedua faktor tersebut dicukupi selain nutrisi tanah maka pertumbuhan akar menjadi lebih baik. Pemangkasan daun juga berpengaruh pada pertumbuhan akar, paling tidak dalam setahun dipangkas 2 kali menurut catatan Hischmann. Namun pada saat ini kenyataanya sangat jarang sekali petani akar wangi memangkas daun akar wangi bahkan tidak ada yang memangkas.

Hama pada akar wangi sebetulnya jarang, namun pada akar wangi di Garut terdapat serangan larva Coleoptera khususnya didaerah Sukawangi Gunung Guntur, yang merusak akar dengan cara dimakan hingga habis. Hal ini dikarenakan biasanya setelah penanaman tembakau petani tidak membersihkan lahannya. Karena akar wangi ditumpang sari kan dengan tembakau. Selain itu serangan blight yang membuat daun akar wangi berubah menjadi coklat sudah banyak tersebar di Garut.

Satu Hektar akar wangi biasanya akan menghasilkan 800 Kg – 1200 Kg akar wangi bersih kering, tanpa tanah tanpa bonggol. berbeda jika panen segar dengan bonggol pares biasanya akan mendapatkan 6000 Kg. Jika mendapatkan petani nakal maka Anda dalam satu hektar bisa mendapatkan 18.000 Kg sampai 25.000 Kg, wal hasil sisa tanahnya bisa dijual untuk tanah urug :D. Setelah panen biasanya daunya dibiarkan begitu saja, minimal diurug kembali. Di Thailand dan Vietnam, daun akar wangi akan dikeringkan dan difermentasi selama 3 minggu digunakan untuk pakan ternak.

Rendemen akar wangi basah Tahun –  tahun terakhir ini hanya berkisar antara 0.3% – 0.5 %, Jika Anda mendapatkan akar wangi Janur maka rendemen berkisar 0.1%- 0.3%. Penyuling di Garut rata- rata menggunakan ketel stainless steel dengan ketebalan rata – rata 5 mm. Pada proses penyulingan, digunakan tekanan uap sebesar 3 – 5 barr dengan durasi waktu penyulingan 8- 12 Jam. Hasil dari penyulingan menggunakan tekanan tinggi adalah aroma yang dihasilkan menjadi gosong. Jika Anda sempat memasuki ruangan untuk tempat penampungan minyak ketika masih proses maka siapkan masker, karena udara yang keluar membakar paru – paru dan mengiritasi mata.

Para perfumer di luar sana mengenali akar wangi Indonesia dengan smokey note nya berbeda dengan Haiti dan Reunion yang lebih soft dan woody. Kandungan kimia minyak atsiri akar wangi meliputi sesquiterpen hidrokarbon (γ-cadinen, cloven, α-amorphine, aromadendren, junipen, dan turunan alkoholnya), vetiverol (khusimol, epiglobulol, spathulenol, khusinol, serta turunan karbonilnya), dan vetivon (α-vetivon, β-vetivon, khusimon dan turunan esternya). Di antara komponen-komponen tersebut, α-vetivon, β-vetivon, dan khusimon merupakan komponen utama sebagai penentu aroma minyak akar wangi. Ketiga komponen ini disebut penanda aroma khas minyak akar wangi.

Semoga kedepannya volume dan kualitas minyak akar wangi dari Indonesia dapat kembali ditingkatkan, sehingga dapat mengulang kembali sejarah JVO pada tahun tahun lampau.

Credit :

Pak Edy Mulyono DKK,

Team Etherische (www.ethersiche.com),

Bapake Fayiz,

Victora Frolova (www.boisdejasmine.com)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *