Aroma Sehabis Hujan

Di antara hujan rintik membasuh kalbu // Dan resapnya embun sejuk mengundang haru // Sadarkah Puan kasih pujaan // Rangkaian musim yang lelah berawan Akan bersinar risau berharap ‘kan peluknya melengkapi selamanya

Sehabis Hujan,  Ayushita Nugraha  by Mondo Gascaro

Sudah hampir 2 Bulan ini, di Mantup tidak menerima hujan. Tanah menjadi kering dan berdebu. Alhamdulilah nya tadi pagi – pagi sekali sebelum subuh rintik hujan membasahi tanah pekarangan rumah. Ba’da Subuh keluar rumah sebentar, dan membaui aroma khas sehabis hujan. Kuhirup dalam – dalam dan kurasakan aromanya. Ketika terhirup, aroma tersebut masuk kedalam sistem penciuman dan secara langsung mempengaruhi amygdalaku. Ya, aroma itu pagi ini telah menyentuh system limbic di otakku, mempengaruhi sisi psikologis dan emosionalku, memberikan efek lebih tenang, apalagi setelah bubur ayam datang…

System limbic terletak di pusat kedua belahan otak tepat di bawah serebrum, sistem limbik meliputi amygdala, hipokampus, hipotalamus, korteks penciuman, dan talamus. Sistem limbik adalah bagian otak yang sibuk, bertanggung jawab untuk mengatur baik kehidupan emosional kita dan fungsi mental yang lebih tinggi seperti belajar, motivasi, merumuskan dan menyimpan ingatan, mengendalikan respon adrenalin dan otonom, dan mengatur hormon dan respon seksual, persepsi sensorik (optik dan penciuman), dan fungsi motorik.

System Limbic Otak Manusia

Tentunya teman sekalian suka sekali aroma sehabis hujan, apalagi hujan pertama. Aroma yang mungkin membawa kenangan. Aroma yang memiliki cerita yang hanya bisa teman – teman rasakan, saat berjumpa dengan nya, sehabis hujan.

Aroma sehabis hujan ini pertama kali diberi nama oleh 2 peneliti berkebangsaan Inggris dan Australia, pada sebuah Jurnal, Bear, Isabel Joy; Thomas, Roderick G. (March 1964). “Nature of argillaceous odour”. Nature. 201 (4923): 993–995.

Mereka memberinya nama Petrichor. Darah para dewa yang mengalir pada bebatuan.

Dalam tulisannya, kedua peneliti tersebut menuliskan bahwa, minyak atsiri yang berasal dari berbagai macam jenis tumbuhan, dimungkinkan dari keluarga rumput-rumputan, terabsorbsi pada tanah kering. Minyak atsiri tersebut menempel pada tanah dan tertahan disana hingga waktunya rintik hujan pertama menjemputnya.

Bersamaan dengan luruhnya tanah basah, minyak atsiri tersebut menguap bersamaan dengan suatu senyawa bernama Geosmin. Geosmin dihasilkan oleh bakteri gram positif Streptomyces, genus Actinobacteria dari ordo Actinomycetales, geosmin dilepaskan saat mikroorganisme ini mati. Hidung manusia sangat sensitif terhadap geosmin dan dapat mendeteksi geosmin pada konsentrasi serendah 5 bagian per triliun.  Geosmin adalah penyebab bau lumpur pada banyak ikan air tawar komersial seperti ikan mas dan ikan patin.

Dewasa ini, pembentukan aroma syntetic menggunakan beberapa jenis bakteri gram positif ataupun menggunakan jamur sudah banyak dilakukan. Syntesis ini dikenal dengan nama White Technology. Contoh produk yang sudah di release kepasar adalah Clearwood yang digagas oleh Firmenich dan Amyris.

Selain Amyris, terdapat perusahaan lain seperti Allylix, Isobionics, dan Evolva. Mereka mengklaim platform mikroba mereka dapat menghasilkan hampir semua molekul yang berasal dari tumbuhan. Allylix dan Isobionics mempromosikan dua molekul beraroma sitrus yang sama  valencene dan nootkatone sebagai produk pertama mereka.

Ketika dua aroma bergabung menjadi satu, minyak atsiri dan geosmin kemudian diiringi lepasnya para mikroorganisme dari lingkungan sekitar, maka terbentuk lah Petrichor tersebut. Aroma yang menenangkan sehabis hujan.

Author: martsiano

peneliti dan praktisi di bidang minyak atsiri dan kimia bahan alam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *